Senin, 29 Agustus 2011

lupakan sponsor

MALANG - Saat klub-klub mulai merancang pemasukan finansial secara mandiri, Persema Malang sudah terlebih dulu gigit jari. Kondisi klub menyebabkan Persema sulit menggali dana di luar bantuan konsorsium Liga Primer Indonesia (LPI).

Sebagai klub dengan sejarah tak mengkilap, Laskar Ken Arok tak mampunyai daya tawar tinggi kepada publik. Selain prestasi yang tak pernah cemerlang, klub yang bersarang di Stadion Gajayana juga selalu dalam bayang-bayang saudara mudanya Arema FC.

Tak heran jika klub yang dulunya milik Pemkot Malang tersebut sulit untuk 'bernafas'. Dua aspek potensial yang biasa digunakan klub untuk mendulang uang, yakni sponsorship dan penjualan tiket, bahkan tak mampu dioptimalkan.

CEO Persema Didied Poernawan mengakui Persema kesulitan mendapatkan sponsor untuk musim depan. "Persema adalah tim kecil sehingga kesempatan mendapatkan sponsor tentu tak bisa disamakan dengan Arema. Kita tak menyerah berusaha, tapi itulah kenyataannya," ungkap Didied.

Bertahun-tahun klub tertua di Malang ini selalu disuntik dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Malang. Tradisi itulah yang membuat Persema tak terbiasa mandiri, ditambah lagi pamor yang kalah cemerlang dibanding Singo Edan.

Situasi diperparah minimnya pengunjung yang datang ke Stadion Gajayana saat pertandingan. Paling banter penonton yang melihat Persema hanya 5.000 kepala, itu pun untuk pertandingan dengan lawan berbobot. Untuk laga biasa, penonton tak mencapai angka 2.000 pasang mata.

Malah terlalu sulit untuk melihat dengan jelas siapa supporter fanatik klub ini. Mereka yang datang ke stadion kebanyakan hanya mayarakat yang butuh hiburan. Tak heran jika penjualan tiket bukan sektor yang dianggap serius mendatangkan uang.

Langkah Persema menjual saham ke publik juga masih diragukan hasilnya, mengingat kondisi klub yang serba belum mapan. Walau begitu, manajemen tetap berharap ada pihak yang tergiur membeli saham Persema yang sementara ini disubsidi Konsorsium LPI sebsar Rp20 miliar per musim.

"Kita belum mempunyai target pasti sejauh mana keberhasilan upaya go publik ini. Yang pasti Persema akan melakukan segala upaya untuk mendapatkan tambahan dana, karena kompetisi butuh modal besar," demikian Didied.

Dana Rp20 miliar dari Konsorsium LPI sejatinya sudah melebihi budgeting cap PSSI sebesar Rp15 miliar per musim. Tapi manajemen Laskar Ken Arok menilai nominal itu masih sangat kecil, karena separuhnya digunakan untuk kontrak pemain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar lah yang baik, dan mengkritik dengan santun.

members

Label